Cerita Sex SEDARAH : Entar Mama Ganggu Lagi

MAMA SANDI

Saat pulang, Sandi menyadari mamanya sedang memasak.Beberapa tahun lalu, ayah Sandi -yang terbilang keras- meninggal. Meski terbilang keras dan suka memaksa, namun tetap saja menimbulkan luka yang mendalam di hati Sandi dan mamanya. Mamanya memutuskan untuk menjual rumahnya dengan alasan terlalu banyak kenangan. Beberapa bulan kemudian mama Sandi menikah kembali. Namun Sandi memutuskan untuk mengontrak rumah sendiri daripada ikut ke ayah tirinya.Belum juga setahun, mama Sandi sudah cerai. Setelah itu, berkali – kali gonta – ganti pacar, namun ternyata tak ada yang tahan lama.Setiap kali kembali sendiri, mama Sandi selalu ikut di kontrakan Sandi. Sebenarnya Sandi tak keberatan, namun ia merasa mamanya benar – benar kelewatan. Masa dari beberapa pria, kagak ada yang cocok sama sekali.“Kenapa lagi sih mah?”
“Biasalah.”Sandi menghela nafas mendengar jawaban mamanya. Entah pria – pria yang mendekati mama yang bermasalah ataukah mamanyalah yang bermasalah. Namun, melihat anaknya menghela nafas, tiba – tiba mama memeluk Sandi. “Cerita Sex: Entar Mama Ganggu Lagi”“Ya sudah, Sandi mandi dulu deh ma.”
“Iya. Mama lagi buatin pepes peda kesukaan kamu nih.”Setelah makan, mama langsung membersihkan meja, menyiapkan jus dan mengantarkan ke Sandi yang lagi nonton bola. Sandi tersenyum.“Mungkin bentar lagi ada pria yang bakalan bawa mama,” pikir Sandi.Tak terasa telah sebulan mama tinggal di kontrakan Sandi. Tiap pagi, selalu tersedia sarapan. Tiap Sandi pulang, kontrakan pun selalu rapih. Malam pun selalu tersedia masakan buatan mama. pokoknya, kini urusan perut Sandi sudah terjamin.Saat pulang, sebuah vacuum cleaner baru mengingatkan Sandi akan sesuatu. Vacuum cleaner yang gak begitu berguna di kontrakan Sandi, telah dibeli mamanya. Meski harganya mahal, jika berguna sih Sandi takkan mempermasalahkannya. Namun Sandi ingat, mamanya sedari dulu kadang suka beli barang mahal yang tak berguna.Di dapur Sandi melihat mamanya entah sedang ngapain.“Buat apa tuh di depan ma?”
“Tadi pas mama jalan – jalan, mama liat di mall. Kamu kan belum punya, ya mama beli deh.”
“Sandi gak punya karena memang gak butuh mah.
“Lagian, mama punya duit dari mana tuh?”
“Mama liat ada duit di lemari.
“Daripada nganggur, ya mama pake aja.
“Kan itu juga buat kamu juga.”
“Jadi, mama pake duit Sandi?
“Mama tau gak, tuh duit Sandi kumpulin buat yang lain mah.”
“Jaga kelakuanmu Sandi!”
“Lho, ini kan duit Sandi. Lagian mama pake tanpa ngomong dulu. Mestinya mama yang mesti jaga kelakuan!”Sandi memelototi mama agak lama hingga akhirnya mama pun menunduk.“Ntar mama ganti deh.”Meski emosi namun Sandi tiba – tiba memeluk mamanya sesaat lalu pergi. Mandi. Di dapur, mama merasa sangat kesepian. Mama pun mulai memasak. Setelah makan, mama langsung ke kamar. Sandi merasa tak ada lagi yang mesti dilakukan. Pun Sandi ikut ke kamarnya.Di akhir pekan, Sandi mengajak Leni -bagian konsultan di kantornya- makan malam. Sambil makan, leni mengelus kaki Sandi dengan kakinya sendiri. Setelah itu, Sandi mengajak leni ke kontrakannya naik taksi. Di dalam, leni santai di ruang tv. Sandi mengetuk lalu masuk kamar mamanya.Mama sedang berbaring sambil baca buku di ranjang dengan hanya memakai tanktop. “Cerita Sex: Entar Mama Ganggu Lagi”“Ma, malam ini ada temen nginap.”Menurunkan kacamata, mama menatap Sandi lalu menganggu. Mengerti.Sandi pun kembali ke ruang tv menemui leni.“Abis ngapain lu?”Tanpa jawaban, Sandi langsung mencium sambil melepas kancing baju leni. Selanjutnya, permainan birahi Sandi dan leni pun mulai makin seru. Saat Sandi sedang asik melahap memek, leni tiba – tiba mengencangkan pahanya hingga kepala Sandi agak terjepit.“Ow… Lu siapa?” teriak leni.
“Sandi, siapa dia?”Sandi menoleh. Sandi melihat mamanya berdiri. Ternyata, mama memakai babydoll putih dan celana dalamnya hitam. Sungguh terlihat kontras. Sesaat, Sandi bingung mesti jawab apa. Haruskah ia jawab mamanya sedangkan setahu leni, Sandi tinggal sendiri di kontrakannya.“Udahlah. Gak usah dijawab.”Leni pun berpakaian dan langsung pergi.“Maaf,” kata mama sambil menunduk menatap lantai.Sandi menatap mamanya sambil geleng – geleng. Hening. Saat mamanya terlihat akan beranjak, tiba – tiba Sandi bersuara.“Maaf?
“Sandi kan udah bilang ada tamu. Mama gak ngerti atau gimana sih?”Suara Sandi makin meninggi. Namun mama tak berani menatap anaknya.“Jawab ma!“Apa mama pikir ‘Sebaiknya keluar ah dan menyapa’”Akhirnya mama menatap Sandi. Wajahnya penuh kemarahan dan tangannya tak diam menunjuk – nunjuk.“Sebenarnya ada apa sih dengan mama?”Sandi pun bangkit dan berdiri di depan mama. nafas Sandi terasa hangat menyentuh kulit mamanya.“Kenapa tak ada pria yang tahan lama sama mama?
“Kalau saja papa dulu tak tegas, mungkin papa juga takkan tahan.Mama mengalihkan pandangannya dari wajah Sandi. Sandi menatap mamanya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kontolnya masih tegang belum tersalurkan. Pentil susu mamanya terlihat mencetak babydollnya. Kakinya pun semulus kaki leni, meski usianya beda jauh.“Ayo ikut!” kata Sandi sambil menarik tangan mamanya.Sandi duduk di sofa. Lalu menarik mama hingga tengkurap di pangkuan Sandi. Pantatnya menungging. Tangan Sandi menyingkap rok hingga kini hanya terlihat cd mamanya saja. “Cerita Sex: Entar Mama Ganggu Lagi”“Apa-”Mama mulai protes tapi kemudian berteriak saat tangan Sandi menampar pantatnya. Meski tak terlalu sakit, namun tetap saja mama terkejut.“Hentikan!” teriak mama sambil mencoba menutupi pantat dengan tangannya.Tapi tangan mama langsung dipegangi oleh Sandi. Sandi kembali menampar pantat mama. mama mencoba tegar tak menangis, namun ketegaran mama malah membuat Sandi semakin marah. Lalu Sandi menarik cd mama ke bawah hingga pantatnya benar – benar telanjang. Tiga kali tamparan membuat mama akhirnya menangis dan meronta – ronta.“Mama memang mesti dihukum!”Tamparan Sandi kembali mendarat di pantat mama. kini, mamanya hanya terdiam sambil menangis. Tangan Sandi melepas tangan mamanya lalu menyeka dahinya. Mama pun jatuh dari pangkuan Sandi dan kini meringkuk di lantai dengan cd melorot. Melihat keadaan mamanya, kontol Sandi malah makin menegang dan makin sange. Sandi tak ingin mama menyadari betapa ia sungguh menikmatinya. Sandi pun bangkit ke kamar lalu membanting pintu kamar hingga tertutup.Di kamar, Sandi membasuh wajahnya. Melepas pakaian hingga telanjang. Lalu berbaring di ranjang.“Sandi? Sandi?” Mama berbisik di pintu.Sandi tak menjawab. Setelah itu, Sandi mengira mamanya langsung ke kamarnya sendiri. Ia mencoba mereka ulang adegan tadi dalam benak hingga akhirnya tertidur.Di alam mimpi, kejadian tadi terulang. Namun, saat mamanya saat tangannya selesai menampar pantat mama, Sandi melebarkan paha mama. Sandi lalu meraba dan mengelus – ngelus memek mama hingga ia masuka satu jari ke dalam memek mama. Mama menangis memohon agar Sandi berhenti namun tangannya tetap menikmati memek mama.Esoknya saat bangun Sandi merasa lelah. Sandi teringat mimpinya. Sandi merasa tak sanggup menatap mamanya. Untungnya saat Sandi keluar kamar, mama masih di kamarnya. Hari itu di kantor Sandi mengira – ngira apa yang kan terjadi ketika ia dan mama ntar bertatatapan lagi di rumah.Saat pulang, rumah telah bersih dan makanan telah tersedia. Mamanya terlihat tenang seolah – olah tak ada sesuatu semalam. Sandi terus menunggu namun tak ada sesuatu yang terjadi. Saat malam, mama mencium pipi Sandi lalu beranjak ke kamarnya.Akhirnya hari – hari telah berlalu hingga suatu saat teman – teman mengajak Sandi karaoke. Teringat mama yang kadang ngeluh tak pernah keluar rumah, Sandi pun sekalian ngajak mama agar ikut.“Gak ah. Ntar mama ganggu lagi.”
“Ya enggak dong ma. Pasti seru deh. Banyak orang lagi.”Sandi benar – benar ingin mama ikut. Akhirnya mama menyerah setuju. Dua jam kemudian, saat akan pergi mama masih mengurung diri di kamarnya. Sandi mengetuk pintu kamar.“Ayo ma, udah mau mulai nih.”
“Mama gak jadi ikut.”Sandi cemberut lalu membuka pintu kamar. Terkejut, mama mencoba menutupi tubuhnya yang hanya terbalut bh dan cd hitam. Sedang beberapa gaun terlihat berserakan di kasur.“Ayo cepet pilih satu!”Sandi terkejut menyadari betapa suara dan intonasinya mirip ayahnya. Pun mama menyadari apa yang Sandi sadari. Punggung mama langsung kaku, namun langsung memungut gaun hitam. Sandi menunggu di ruang tamu. Mama datang sambil memakai anting.“Mama gak yakin nih.” Sambil bercermin.Sandi melihat tak ada yang salah dengan pakaian mama.“Mungkin mama mestinya gak ikut.” Rengek mama.
“Ayo pergi!” Sandi bersemangat.
“Mama gak jadi ikut,” kata mama sambil mencoba kembali ke kamarnya.Sandi tak habis pikir. Ia ajak mama menemaninya dengan tulus. Tapi rupanya itu tak cukup. Apa lagi yang mesti Sandi lakukan. Sandi lelah dengan semua ini. Akhirnya Sandi menangkap tangan mama lalu menariknya hingga mama menempel ke dinding. Tangan Sandi yang bebas menarik rok dan dipegang oleh tangan lain yang menekan tubuh mama hingga terlihatlah pantat mama yang berbalut cd hitam.“Oh.” Ucap mama.Tak terasa air mata mama jatuh saat pantatnya ditampar berkali – kali. Setelah selesai, mama merasa make up nya pasti kacau lagi. mama merasa takkan bisa duduk.“Ayo pergi.” Kata Sandi.Mama pun menyambar tas kecilnya. Di taksi, mama kembali merias dengan make up. Sandi sama sekali tak berbicara. Ia terus memperhatikan jalan yang terkena hujan. Sandi memikirkan hubungan mama dengan pria – pria semenjak papa meninggal. Mama memang mengakui mamalah penyebab rumah tangganya tak seharmonis orang lain. Tapi mama tak pernah memberi tahu kenapa setelah dengan papa, mama selalu gagal mencoba membina hubungan lagi. Apa mungkin papa sering menyiksa mama? memukul mama? Setidaknya saat mama tak menurut. Apa mama menyukai hukuman atau siksaan papa?Mama tersenyum manis saat Sandi menatapnya. Mama mencoba terlihat senang meski sulit. Saat taksi berhenti dan mereka keluar, mama menatap ke jok dan mendapati jok agak basah.Acaranya sendiri di lantai atas sebuah restoran. Meski minim cahaya, namun lantai dansa terlihat meriah. Mama memegang tangan Sandi yang menuntunnya ke meja yang kosong. Saat Sandi menawari minuman, mama mengangguk dan tersenyum.Sambil menunggu, Sandi merenungkan tamparan yang telah ia berikan pada mama. pandangan pantat mama yang hanya berbalut cd membuat celananya makin sesak. Sebuah senyuman muncul di wajah Sandi.Tiba – tiba, seorang wanita muda mengajak Sandi dansa. Tanpa pikir panjang Sandi pun setuju. Saat mereka di atas lantai dansa, pikiran Sandi melayang. Betapa nikmatnya perasaan saat menampar pantat mama. Meski Sandi tahu itu tak pantas dan tak boleh. Apa yang terjadi seandainya Sandi tak hanya menampar pantat saja. Apakah mama akan berteriak?Sandi menguatkan pelukannya hingga menyadari wanita itu terkejut merasakan betapa celana Sandi serasa menekan lebih jauh. Wajah wanita itu terlihat terkejut sekaligus takut. Lalu wanita itu pun melepaskan pelukannya dan pergi. Sandi hanya bisa melihatnya.“Mama lihat kamu dansa sama seseorang,” kata mama saat Sandi datang sambil bawa minuman.Sesaat, Sandi merasa kecemburuan, namun wajah mama datar saja.“Mana gadis itu?”Sandi tertawa.“Hehe… ternyata masih ada perawan disini. Ia tadi takut sama Sandi.”Mama terlihat bingung tapi tak bertanya lebih lanjut.“Mau dansa?” tanya Sandi setelah mereka minum.
“Oke.” Kata mama cepat.Sandi menatap mama sesaat. Apakah mama setuju karena ingin menari atau karena takut ditampar lagi pantatnya jika menolak? Sandi sadar takkan mendapat jawabnya.Sandi memegang lengan mama mengikuti pasangan yang lain. Untuk pertama kali Sandi menatap mama cukup lama. Wajah mama masih bersih. Pipinya bulat dan ada sedikit keriput di sudut mata. Rambut mama disisir ke belakang hingga atas bahu. Sandi menunduk saat mama mengalihkan pandangan. Sandi menghela nafas melihat susu mama.Mama makin erat memeluk Sandi. Susunya makin menekan dada Sandi. Sandi merasa kontolnya makin menegang. Tangan Sandi makin menekan hingga mereka makin erat. Aroma rambut mama memenuhi hidung Sandi. Sandi dan mama menari. Mama lalu menyadari betapa anaknya ternyata sangat tertarik padanya. Tangan mama menekan pantat Sandi hingga diantara keduanya terganjal sesuatu yaitu kontol Sandi.Alunan musik makin membuat Sandi menyadari betapa kontolnya kini berdenyut – denyut. Sandi yakin mama pun pasti menyadarinya. Sambil senyum, Sandi melepas pelukannya dan bergerak agak mundur.Mama tenganga melihat tingkah anaknya lalu menjauhi lantai dansa. Sandi melihat mama menjauhi, jangan – jangan kedekatannya telah menyinggung mama. Sandi ucapkan untuk pamit pada teman – teman lalu menyusul mama. Di dalam taksi Sandi dan mama memilih diam. Sandi tak berani menatap mama takut mama marah. Sampai di rumah, mama langsung ke kamar sedangkan Sandi nonton tv sebentar, lalu ke kamar.Sandi kembali memimpikan mama. Kali ini, Sandi dan mama pun sedang berdansa. Namun, alih – alih memakai gaun, mama malah dansa dengan memakai baby doll. Tangan Sandi menekan pantat mama agar makin menempel. Tiba – tiba, Sandi telah telanjang dan dengan ditekannya pantat mama, maka amblaslah kontol Sandi di memek mama.Mama mendengar Sandi bersuara seperti menangis. Entahlah. Mama memutuskan mengintip. Mama buka pintu kamar Sandi pelan – pelan. Perlahan, mama sibakkan selimut Sandi hingga terlihatlah kontol Sandi yang tegang tersembul keluar dari boxernya. Ujung kontolnya terlihat cairan bening.“Oh… mama.” Sandi berucap dalam tidur. Pinggulnya bergerak tak bisa diam.Tiba – tiba mama merasakan kegembiraan melihat tingkah laku anaknya. Mama senang tahu bahwa dirinyalah objek dalam impian Sandi. Seutas senyum tersungging di bibir mama. Pelan, mama keluar lalu menutup pintu kembali ke kamarnya.Sarapan ada di kamarnya saat mata Sandi membuka, namun mama tak kelihatan batang hidungnya. Di baki ada catatan berisi “ mama belanja dulu, biar kalau kamu pulang kerja masakan udah siap.” Sandi bersyukur membaca catatan itu. Ternyata mama tidak marah.Sore pun tiba. Sandi pulang kerja. Begitu tiba di rumah, wangi masakan memenuhi hidung Sandi. Ternyata mama sedang menata meja. Mama memakai gaun kuning dengan rok selutut. Begitu menyadari kehadiran Sandi, mama mencium pipi Sandi dengan lembut. Lipstik di bibir mama meninggalkan noda kecil di pipi Sandi. Setelah mama menyekanya, mama tersenyum dan menyuruh Sandi duduk. Melihat Sandi telah duduk, mama menyerahkan bir yang langsung diterima Sandi.Baru saja Sandi mau minum bir, tiba – tiba ia melihat catatan di sebelah piring. Setelah dilihat, diraba dan diterawang ternyata catatan itu adalah Struk. Struk sebotol parfum seharga satu juga tiga ratus ribu rupiah.Seluruh nafsu makan Sandi pun lenyap entah ke mana.“Apa – apaan ini?” teriak Sandi.Mama menoleh terkejut. “Apa sayang?”“Ini!” kata Sandi sambil menunjukan Struk.
“Apa sih maksud mama?”Meski gelisah, mama menatap Sandi. Sambil terus menatap, mama mendekati ujung meja lalu membungkuk ke meja hingga pantat mama membusung. Sandi terkejut melihat aksi mama. ternyata mama ingin di tampar pantatnya. Mama tahu beli parfum mahal bakal bikin Sandi marah, apalagi menunjukan struknya. Jangan – jangan parfum belum dibuka sama sekali. Bahkan belum dikeluarkan dari kantong belanja. Kenyataan ini membuat emosi Sandi menghilang. Sandi pun menghirup udara agak panjang.Mama melihat Sandi duduk ternganga sambil menatap. Sepertinya Sandi sedang berpikir. Mama pun memutuskan untuk diam menunggu. Mama merasa memeknya mulai berkedut – kedut. Sandi berdiri. Mama melihat benjolan di celana Sandi. Sandi terlihat mulai terangsang. Mama kembali menatap mata Sandi hingga Sandi beranjak ke belakang mama. saat mama kembali menatap ke depan mama merasa Sandi mulai menaikkan roknya.Sandi ternganga melihat memek mamanya ditumbuhi bulu bulu halus. Kontol Sandi makin mengeras hingga celana pun mulai terasa sesak.Sandi menyentuh pantat mama. Jari – jarinya mengusap dengan lembut. Saat jari Sandi mulai menyentuh sisi memek mama, jari Sandi ternyata basah. Sandi merasa mendengar desahan mama. Sandi tarik tangannya lalu menampar pantat mama dengan keras.

“Owww.”Mata mama membasah. Namun tubuh mama tetap diam tak bergerak. Mama menggigit bibir saat pantatnya ditampar lagi dan lagi. Bergantian Sandi menampar pantat kiri dan kanan mama. Namun, tangan Sandi pun mulai merasa sakit.Sandi menghentikan aksinya. Membuka laci lalu mengeluarkan susuk kayu untuk memasak. Kini, susuk kayu itu yang menggantikan tangan Sandi menampar pantat mama. Erangan mama kini memenuhi dapur saat mama sedang dihukum oleh anaknya. Setelah beberapa saat mama mulai berteriak sambil menangis. “Maafkan mama. Maafkan mama.”Saat mama akhirnya menutupi pantat dengan tangan, Sandi pun menghentikan aksinya. Sandi mencoba mengatur nafas. Saat menatap pantat mama, Sandi tiba – tiba merasa kasihan. Pantatnya terlihat sangat merah. Jangan – jangan mama tidak akan bisa duduk. Sandi membelai pantat merah mama. Elusan jari – jari Sandi pada memek membuat mama melenguh. Lalu Sandi eluskan jarinya yang agak basah pada pantat merah mama.“Oh…” tangis mama sambil menahan getar tubuh.Mama menutup mata. Saat mendengar suara sleting diturunkan, mama bersukur senang. Mama lalu melebarkan paha dan mengangkat pantatnya.Sandi melorotkan celana hingga selutut. Sandi menyentuh memek mama hingga tangannya basah. Lalu menyentuh kontolnya.“Mama mesti diginiin. Sandi tahu mah.” Kata Sandi sambil menyentuhkan kontol ke memek mama.Sandi lalu mendorong pantatnya.“Ahh…” erang mama saat kontol Sandi memenuhi memek.Perihnya pantat mengingatkan mama betapa dulu suaminya sering melakukan ini padanya. Setelah memukul mama, suaminya selalu ngentot baik dengan lembut ataupun dengan keras. Sentakan kontol membuat mama menutup mata dan berbaring pada meja. Pikiran mama melayang menikmati sensasi seorang pria. Nafas mama makin terengah disertai nafas Sandi. Meja pun bersuara akibat didorong oleh dua insane yang sedang memadu nafsu terlarang.Sandi menatap kontolnya yang sedang menggenjot memek mama. Cairan putih terlihat samar di kontolnya.“Mama selalu bikin masalah. Mama memang pantas dihukum.”Mendengar suara anaknya membuat mama orgasme. Tangan mama meraih sisi meja dan memegangnya erat – erat sambil mengerang penuh kenikmatan. Sandi merasa memek mama berdenyut – denyut seperti memeras kontolnya. Tak pelak, perlakuan ini membuat Sandi merasa orgasmenya kian dekat. Suara daging beradu memenuhi ruangan.Akhirnya Sandi merasa orgasmenya sudah didepan kontol. Dengan erangan keras, Sandi tusukan kontolnya dalam – dalam sambil menyemburkan lahar panas ke memek mama. gelombang kenikmatan melanda mama hingga memeknya memeras kontol anaknya.Setelah selesai, Sandi melihat pantat merah mama. Saat dicabut, kontol Sandi terdapat cairan – cairan putih menetes. Tangan Sandi meremas pantat mama, kanan dan kiri. Lalu melebarkan pantat hingga anus mama terlihat. Setelah mengelus anus mama, Sandi mencoba menusukan jempol ke anus mama.Mama hanya bisa berbaring pasrah di atas meja saat anusnya dimainkan jempol anaknya. Tak pernah ada kontol yang pernah memasuki anus mama. Lalu Sandi mundur menjauh dari mama lalu kembali memakai celana. Mama bangun hingga roknya kembali menutupi memek dan pantat mama.“Bersihin dulu tuh badan terus makan.”Setelah Sandi pergi, mama pun mandi. Saat Sandi kembali, mama menyiapkan makanan lalu memberikannya ke Sandi. Setelah itu mama menyiapkan makanan untuknya sendiri. Dalam diam Sandi makan. Sambil mengunyah, Sandi memikirkan apakah mamanya akan membicarakan apa yang baru saja terjadi, namun ternyata tak terjadi. Percakapan yang ada hanyalah bahwa mama berjanji akan mengembalikan parfum yang sudah dibeli.Setelah makan, Sandi pun mandi. Aroma keringat dan sperma membuat Sandi tak nyaman. Saat air mengguyur tubuhnya Sandi mengira – ngira apa yang akan terjadi perihal hubungannya dengan mama. Memang telah lama Sandi sering menghayal ngentot mama. Tapi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Sandi ingin ini terus berlanjut? Apakah mama ingin ini terus berlanjut? Sandi duduk di sofa lalu menonton tv. Menunggu apakah mama akan menyinggung hal yang telah terjadi di dapur. Mama muncul memakai daster. Saat iklan, mama ngajak ngobrol basa – basi. Tapi saat acara tv berlangsung, mereka diam. Setelah beberapa saat, mama mencium dahi Sandi lalu pergi ke kamar. Sandi menggelengkan kepalanya, bingung tapi juga lega. Sandi pun beranjak lalu ke kamar. Tidur.Hari – hari pun berlalu. Sandi sedikit berharap mama akan menyinggung kejadian di dapur. Tapi ternyata tidak. Di akhir pekan, mama keluar jalan – jalan. Entah ke mana. Kali ini mama tak membuat masalah yang biasanya selalu membuat mantan pacar / suaminya marah. Seolah – olah kini mama sudah agak berbeda.Sebulan kemudian mama menceritakan pria baru. Seorang pengusaha waralaba yang mengajak mama tinggal serumah.“Sekarang mama gakkan merepotkan kamu lagi.”Sandi sering mengingat kembali kejadian di dapur sambil membayangkan reaksi mama setelahnya. Namun mama tak pernah mengungkit itu. Seolah – olah tak pernah terjadi. Sepertinya mama telah menyingkirkan memori tentang dapur, pikir Sandi. Kini, setiap kali Sandi ingat aksinya di dapur, Sandi hanya bisa menghela nafas dan tersenyum. Takkan pernah terjadi lagi. Pikir Sandi.Tiga bulan kemudian mama mengabari bahwa mama akan menikah, lagi. Sandi pun menginap di hotel dekat tempat resepsi. Siangnya, saat sedang santai di kamar, Sandi mendengar ketukan pintu. Saat membuka pintu, Sandi melihat mamanya berdiri memakai rok krim, blazer, blus putih dan sabuk coklat. Rambutnya sebahu.“Hai sayang,” kata mama.Suara mama membuat kontol Sandi bereaksi. Cara mama berucap, nadanya persis sama saat kejadian di dapur, dulu.“Boleh mama masuk?”Setelah menyilakan mama masuk, Sandi mengambil bir di minibar lalu bergabung dengan mama. Sandi melihat mama sedang melepas sepatunya lalu naik ke kasur. Karena berdiri di belakang mama, Sandi pun menatap sambil mengagumi pantat mama.“Mama rasa, mama akan mengacau lagi,” kata mama lalu berbalik menatap Sandi.
“Mama ingin,” suara mama bergetar. “Mama ingin,” Sandi melihat kekuathiran dan rasa takut di mata mama. “Sekali lagi.”Jantung Sandi berdetak makin kencang memompa sel darah merah hingga memenuhi kontol Sandi. Sandi letakkan bir lalu beranjak ke kasur. Tangan Sandi meluncur di pantat mama, lalu mengelusnya.“Tarik ke atas,” suara Sandi mencoba menyembunyikan rasa senangnya.Mama menurut lalu menarik ujung rok hingga ke pinggangnya. Sandi melihat penuh kekaguman saat celana dalam mama terlihat. Sandi bisa melihat di cd mama betapa mama sudah sangat terangsang. Aroma memek mama begitu kuat membuat nafsu liar Sandi makin menggebu.

Mama berteriak saat tangan Sandi mendarat keras di pantatnya. Menggigit bantal, mama mencoba menahan tangis saat tamparan lain mendarat terus – menerus. Sandi pun merasakan tangannya sudah terasa sakit. Setelah itu Sandi menghentikan tamparannya. Kini, jarinya menekan cd mama yang sudah basah. Dorongan jari Sandi menyebabkan pantat mama mendorong. Sandi melihat tubuh mama bergetar penuh kenikmatan. Kini, jari Sandi yang agak basah Sandi usapkan pada pantat merah mama.Sandi agak mundur, lalu menarik rambut mama hingga membuat mama berbalik dan kini berlutut di hadapan Sandi. Celana Sandi terasa sesak. Air mata di wajah mama Sandi usapkan ke bongkahan celananya. Mama merasakan bongkahan celana anaknya menekah pipi. Sandi lalu menyentuh dagu mama dan menariknya hingga bisa saling menatap. Dengan tangan satunya, Sandi membuka sleting dan mengeluarkan kontol. Mata mama menatap mata Sandi, lalu Sandi mengangkat kontolnya hingga ada di depan wajah mama.Daging hangat itu menekan bibir mama. Sesaat, hanya sesaat mama menatap mata Sandi, lalu mengeluarkan lidah dan mulai menghisap kontol anaknya. Mama menutup mata dan mulai memasukan kontol ke mulut. Lidah mama menyapu helm kontol membuatnya basah oleh liur. Dengan pelan mama menyepong kontol anaknya. Erangan kecil keluar dari mulut mama.Sandi melihat mama mencium lembut kontolnya. Pelayanan mama membuat Sandi senang. Pinggul Sandi mulai bergoyang maju mundur. Kini, hampir seluruh kontol Sandi ada di mulut mama. Menyadari yang nyepong kontolnya adalah mama makin membuat kontol Sandi menengang dan membesar.“Oh… ma… Hisap kontol Sandi ma.”Memek mama berdenyut mendengar ucapan anaknya. Tangan Sandi menyentuh wajah mama. Mama merasakan kontol Sandi mulai mengeluarkan cairan.Sandi mencabut kontolnya membuat mama merintih seolah tak rela. Sandi mencoba melepas pakaian mama sebisanya. Sandi ternganga saat susu mama kini terlihat. Sandi pun menunduk lalu menyusu pada mama.“Oh… nak…”Mama mengerang saat susunya dihisap dan diremas oleh anaknya. Lalu Sandi bangkit dan melepas pakaiannya.“Sandi entot susu mama dulu.”Sandi menempatkan kontol diantara susu mama. Mama lalu menekan kedua susunya. Sandi pun mulai menggoyangkan pinggulnya. Saat kontol Sandi diatas, lidah mama mencoba menjilatnya.“Ayo nak, entot susu mama. Semburkan spermamu nak.” Suara mama terdengar seksi.Sandi menapat mama sambil terus ngentot susunya. Akhirnya orgasme melanda Sandi membuat mama terkejut saat sperma Sandi mendarat di leher, dagu dan wajah mama. Sandi melolong merasakan kenikmatan.Sandi pun menarik kontol sambil menghela nafas lalu berbaring di sisi mama. kini, pantat mama menekan kontol Sandi. Tangan Sandi mengelus memek mama. Jari Sandi mulai memasuki memek mama dan memainkannya.“Oh nak… “ erang mama kenikmatan saat jari tangan Sandi ngentot memek mama.Sambil memengang tangan Sandi, mama menggoyangkan pinggulnya. Sambil menjepit tangan Sandi dengan paha, mama menggetar nikmat.Kini, Sandi mendorong mama ke samping lalu berlutut di belakang mama. Sandi terus membelai memek mama lalu mengusapnya ke atas ke pantat merah mama. Usapan ini membuat mama merasakan pedih dan nikmat sekaligus. Anus mama terasa sakit sedangkan memek mama berdenyut nikmat. Sensasi ini membuat mama merasa akan orgasme.Sandi menghentikan aksinya. Cairan mama membasahi tangan Sandi. Menoleh mama menatap Sandi. Wajahnya masih penuh nafsu menuntut penyelesaian.“Teruskan nak,” ratap mama.Sandi menatap mama, bingung. Mama pun nungging. Tangan mama lalu melebarkan pantat. Jempol mama mengusap anusnya sendiri. Melihat aksi mama membuat kontol Sandi kembali menegang. Lalu Sandi menatap mama. Setelah menatap Sandi, mama lalu menutup matanya. Sambil memegang kontol, Sandi kembali menekan kontol ke memek mama.Mama merintih saat Sandi kembali menjamahnya. Rambut mama dijamak Sandi hingga menoleh dan mulut mama dimasuki dua jari Sandi yang langsung disepong mama. Setelah Sandi merasa dua jarinya basah, Sandi pun mencabutnya. Kedua jari basah Sandi kini mengelus anus mama. Saat Sandi mencoba memasukan jari ke anus, mama melolong memenuhi ruangan. Aksi Sandi membuat mama kesakitan sekaligus nikmat.“Siap ma.” bisik Sandi lalu menarik kontol dari memek mama.Sedang kedua jari Sandi kini mulai masuk ke dalam anus mama. Setelah beberapa saat, Sandi mencabut jarinya lalu mencoba menekan kontol ke anus mama.“Oww!” teriak mama lalu mulai terengah – engah. Mama mencoba santai agar rasa sakit yang timbul dari kontol anaknya bisa sedikit berkurang.
“Terlalu kering nak.” Bisik mama saat Sandi terus mencoba memerawani anusnya.Sandi lalu mencabut kontol dan meludahi dan menggeseknya ke anus mama hingga dirasa cukup. Setelah itu Sandi mencoba lagi menusuk kontol ke anus mama.Mama mencoba menguatkan diri saat kontol anaknya mulai merambah anusnya. Sakit dan nikmat bercampur saat mama menyadari betapa terlarangnya persetubuhan ini hingga membuat mama bertahan. Memek mama kembali basah saat jari mama memainkan klitorisnya sendiri.“Terlalu besar nak.” Mama menangis sambil menggoyang pinggul. Kontol anaknya terasa makin membesar dank eras.
“Entot mamamu nak. Entot pantat mama!”

Peluh membanjiri tubuh Sandi meski ruangan berAC. Sandi berkonsentrasi mencoba menusukkan kontolnya agar sukses menjamah anus mama. Namun, sempitnya anus mama membuat kontol Sandi semakin tak tahan hingga Sandi merasa orgasmenya mendekat.“Keluarkan di pantat mama nak!” jerit mama saat merasakan tusukan Sandi makin cepat.Akhirnya mama merasakan semburan lahar panas di anusnya. Sperma pun meleleh mengalir keluar dari sela anus mama. Mulut Sandi terbuka menikmati sensasi orgasme di dalam anus mama.Akhirnya kontol Sandi keluar dari anus mama. Cairan putih pun tumpah saat mama berguling. Sandi menatap mama. Wajah penuh birahi kini digantikan dengan wajah penuh kepuasan dan kedamaian.“Terimakasih nak.” Senyum mama.Esoknya calon suami mama menjabat tangan Sandi.“Mamamu sangat spesial. Aku akan menjaganya.”Sandi tersenyum lalu memeluk ayah tirinya. Setelah itu Sandi menatap mama dan tersenyum lebar. Sandi lalu memeluk mama sambil berbisik.“Tiap kali mama lepas kendali. Mama akan Sandi hukum agar tak merepotkan suami mama.”Mama tersenyum mendengar bisikan anaknya. Mama lalu mencium pipi Sandi. Kini mama menyadari apa yang telah lama hilang. Dan yakin bahwa pernikahan kali ini akan langgeng dengan adanya Sandi, anaknya yang bisa menghukumnya.

Keperawanan Adik Saya Di Rengut Oleh Abangnya Sendiri

Keperawanan Adik Saya Di Rengut Oleh Abangnya Sendiri

25007511_825346210960985_7086644378533363712_n

Namaku dedi (nama samaran). Aku itu sekolah SMP semester dua di Bandung. Aku tinggal masih bareng orangtua dan Kakakku yang masih SMA Dina namanya (juga samaran). Orangtuaku dua-duanya kerja. Jadi rumah sering tinggal kakakku dan aku saja, sama pembantu.

Pada waktu sore rumah sedang kosong, orangtua sedang pergi dan kebetulan pembantu juga sedang tidak ada. Adikku sedang pergi. Aku menyewa VCD BF XX dan X2. Aku senang sekali, karena tidak ada gangguan pas sedang nonton.

Cerita X2 di VCD itu kebetulan bercerita tentang seks antara adik dan kakak. Gila sekali deh adegannya. Kupikir kok bisa ya. Eh, aku berani tidak ya melakukan itu sama adikku yang masih SMP? tapi kan adikku masih polos sekali, kalau di film ini mah sudah jago dan pro, pikirku dalam hati. Sedang nonton plus mikir gimana caranya melakukan sama adikku, eh, bel berbunyi. Wah, teryata adikku, si Dina sama temannya datang. Sial, mana filmnya belum selesai lagi. Langsung kusimpan saja tuh VCD, terus kubukakan pintu. Dina sama temannya masuk. Eh, temannya manis juga loh.

“Dari mana lo?” tanyaku.

“Dari jalan dong. Emang kayak kakak, ngedekem mulu di rumah,” jawabnya sambil manyun.

“Aku juga sering jalan tau, emang elo doang. Cuman sekarang lagi males,” kataku.

“Oh iya, Kak. Kenalin nih temenku, namanya Anti, temen sekelasku,” katanya.

Akhirnya aku kenalan sama itu anak. Tiba-tiba si Dina tanya, “lihat VCD Boyzone aku tidak?”

“Tau, cari saja di laci,” kataku.

Eh, dia membuka tempat aku menaruh VCD BF. Aku langsung gelagapan.

“Eh, bukan di situ..” kataku panik.

“Kali saja ada,” katanya.

Telat. Belum sempat kutahan dia sudah melihat VCD XX yang covernya lumayan hot itu, kalau yang X2 sih tidak pakai gambar.

“Idih.. Kak. Kok nonton film kayak begini?” katanya sambil memandang jijik ke VCD itu.

Temannya sih senyam-senyum saja.

“Enggak kok, aku tadi dititipin sama temanku,” jawabku bohong.

“Bohong banget. Ngapain juga kalo dititipin nyasar sampe di laci ini,” katanya.

“Kak, ini film jorok kan? Nnngg.. kayak apa sih?” tanyanya lagi.

Aku tertawa saja dalam hati. Tadi jijik, kok sekarang malah penasaran.

“Elo mao nonton juga?” tanyaku.

“Mmm.. jijik sih.. tapi.. penasaran Kak..” katanya sambil malu-malu.

“Anti, elo mao nonton juga tidak?” tanyanya ke temannya.

“Aku mah asyik saja. Lagian aku udah pernah kok nonton film kayak begitu,” jawab temannya.

“Gimana.. jadi tidak? keburu mama sama papa pulang nih,” desakku.

“Ayo deh. Tapi kalo aku jijik, dimatiin ya?” katanya.

“Enak saja lo, elo kabur saja ke kamar,” jawabku.

Lalu VCD itu aku nyalakan. Jreng.. dimulailah film tersebut. Aku nontonnya sambil sesekali memandangi adikku dan temannya. Si Anti sih kelihatannya tenang nontonnya, sudah “expert” kali ya? Kalau adikku kelihatan begitu baru pertama kali nonton film seperti begitu. Dia kelihatan takut-takut. Apalagi pas adegan rudalnya cowok dihisap. Mana itu rudal besarnya minta ampun. “Ih, jijik banget..” kata Dina. Pas adegan ML sepertinya si Dina sudah tidak tahan. Dia langsung kabur ke kamar.

“Yee, malah kabur,” kata Anti.

“Elo masih mao nonton tidak?” tanyaku ke si Anti.

“Ya, terus saja,” jawabnya.

Wah, boleh juga nih anak. Sepertinya, bisa nih aku main sama dia. Tapi kalau dia marah gimana? pikirku dalam hati. Ah, tidak apa-apa kok, tidak sampai ML ini. Sambil nonton, aku duduknya mendekat sama dia. Dia masih terus serius nonton. Lalu kucoba pegang tangannya. Pertama dia kaget tapi dia tidak berusaha melepas tangannya dari tanganku. Kesempatan besar, pikirku. Kuelus saja lehernya. Dia malah memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati begitu. Wow, tampangnya itu lho, manis! Aku jadi ingin nekat. Waktu dia masih merem, kudekati bibirku ke bibir dia. Akhirnya bersentuhanlah bibir kami. Karena mungkin memang sudah jago, si Anti malah mengajak French Kiss. Lidah dia masuk ke mulutku dan bermain-main di dalam mulut. Sial, jagoan dia daripada aku. Masa aku dikalahin sama anak SMP sih. Sambil kami ber-French Kiss, aku berusaha masukkan tanganku ke balik bajunya. Mencari sebongkah buah dada imut. Ukuran dadanya tidak begitu besar, tapi sepertinya sih seksi. Soalnya badan si Anti itu tidak besar tapi tidak kurus, dan tubuhnya itu putih.

Begitu ketemu buah dadanya, langsung kupegang dan kuraba-raba. Tapi masih terbungkus sama bra-nya. “Baju elo gue buka ya?” tanyaku. Dia ngangguk saja sambil mengangkat tangannya ke atas. Kubuka bajunya. Sekarang dia tinggal pakai bra warna pink dan celana panjang yang masih dipakai. Shit! kataku dalam hati. Mulus sekali! Kubuka saja bra-nya. Payudaranya bagus, runcing dan putingnya berwarna pink. Langsung kujilati payudaranya, dia mendesah, aku jadi makin terangsang. Aku jadi pingin menyetubuhi dia. Tapi aku belum pernah ML, jadi aku tidak berani. Tapi kalau sekitar dada saja sih aku lumayan tahu. Gimana ya? Tiba-tiba pas aku lagi menjilati payudara si Anti, adikku keluar dari kamar. Kami sama-sama kaget. Dia kaget melihat apa yang kakak dan temannya perbuat. Aku dan Anti kaget pas melihat Dina keluar dari kamar. Si Anti buru-buru pakai bra dan bajunya lagi. Si Dina langsung masuk ke kamarnya lagi. Sepertinya dia shock melihat apa yang kami berdua lakukan. Si Anti langsung pamit mau pulang. “Bilang sama Dina ya.. sorry,” kata Anti. “Tidak apa-apa kok,” jawabku. Akhirnya dia pulang.

Aku ketuk kamarnya Dina. Aku ingin menjelaskan. Eh, dianya diam saja. Masih kaget kali ya, pikirku. Aku tidur saja, dan ternyata aku ketiduran sampai malam. Pas kebangun, aku tidak bisa tidur lagi, aku keluar kamar. Nonton TV ah, pikirku. Pas sampai di depan TV ternyata adikku lagi tidur di kursi depan TV. Pasti ketiduran lagi nih anak, kataku dalam hati. Gara-gara melihat dia tidur dengan agak “terbuka” tiba-tiba aku jadi keingat sama film X2 yang belum selesai kutonton, yang ceritanya tentang hubungan seks antara adik dan kakak, ditambah hasrat aku yang tidak kesampaian pas sama Anti tadi. Ketika adikku menggerakan kakinya membuat roknya tersingkap, dan terlihatlah CD-nya. Begitu melihat CD-nya aku jadi semakin nafsu. Tapi aku takut. Ini kan adikku sendiri masa aku setubuhi sih. Tapi dorongan nafsu semakin menggila. Ah, aku peloroti saja CD-nya. Eh, nanti kalau dia bangun bagaimana? Ah, cuek saja. Begitu CD-nya turun semua, wow, belahan kemaluannya terlihat masih amat rapat dan dihiasi bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Kucoba sentuh, hmm.. halus sekali. Kusentuh garis kemaluannya. Tiba-tiba dia menggumam, aku jadi kaget. Aku merasa di ruang TV terlalu terbuka. Kurapikan lagi pakaian adikku, terus kugendong ke kamarnya.

Sampai di kamar dia, it’s show time, pikirku. Kutiduri dia di kasurnya. Kubukakan bajunya. Ternyata dia tidak pakai bra. Wah, payah juga nih adikku. Nanti kalau payudaranya jadi turun bagaimana. Begitu bajunya terbuka, buah dada mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil buah dadanya tapi lumayan ada. Kucoba hisap putingnya, hmm.. nikmat! Buah dada dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun! “Kak.. ngapain lo!” teriaknya sambil mendorongku. Aku kaget sekali, “Ngg.. ngg.. tidak kok, aku cuma pengen nerusin tadi pas sama si Anti, tidak papa kan?” jawabku ketakutan. Aku berharap orangtua aku tidak mendengar teriakan adikku yang agak keras tadi. Dia menangis.

“Sorry ya Din, gue salah, habis elo juga sih ngapain tidur di ruang TV dengan keadaan seperti itu, tidak pake bra lagi,” kataku.

“Jangan bilang sama mama dan papa ya, please..” kataku.

Dia masih nangis. Akhirnya kutinggali dia. Aduh, aku takut nanti dia ngadu.

Sejak saat itu aku kalau ketemu dia suka canggung. Kalau ngomong paling seadanya saja. Tapi aku masih penasaran. Aku masih ingin mencoba lagi untuk “ngegituin” Dina. Sampai pada suatu hari, adikku sedang sendiri di kamar. Aku coba masuk,

“Din, lagi ngapain elo,” aku mencoba untuk beramah-tamah.

“Lagi dengerin kaset,” jawabnya.

“Yang waktu itu, elo masih marah ya..” tanyaku.

“..” dia diam saja.

“Sebenernya gue.. gue.. pengen nyoba lagi..” gila ya aku nekat sekali.

Dia kaget dan pas dia mau ngomong sesuatu langsung aku dekati mukanya dan langsung kucium bibirnya.

“MmhHPp.. Kakk.. mmHPh..” dia seperti mau ngomong sesuatu.

Tapi akhirnya dia diam dan mengikuti permainanku untuk ciuman. Sambil ciuman itu tanganku mencoba meraba-raba dadanya dari luar. Pertama merasakan payudaranya diraba, dia menepis tanganku. Tapi aku terus berusaha sambil tetap berciuman. Setelah beberapa menit berciuman sambil meraba-raba payudaranya, aku mencoba membuka bajunya. Eh, kok dia langsung mau saja dibuka ya? Mungkin dia lagi merasakan kenikmatan yang amat sangat dan pertama kali dirasakannya. Begitu dibuka, langsung kubuka bra-nya. Kujilati putingnya dan sambil mengusap dan mneremas-remas buah dada yang satunya. Walaupun payudara adikku itu masih agak kecil, tapi dapat memberikan sensasi yang tak kalah dengan payudara yang besar. Ketika sedang dihisap-hisap, dia mendesah, “Sshh.. sshh.. ahh, enak, Kak..” Setelah kuhisap, putingnya menjadi tegang dan agak keras. Terus kubuka celanaku dan aku keluarkan “adik”-ku yang sudah lumayan tegang. Pas dia melihat, dia agak kaget. Soalnya dulu kami pernah mandi bareng pas “punya”-ku masih kecil. Sekarang kan sudah besar dong.

Aku tanya sama dia, “Berani untuk ngisep punya gue tidak? Entar punya elo juga gue isepin deh, kita pake posisi 69.”

“69.. apa’an tuh?” tanyanya.

“Posisi dimana kita saling mengisap dan ngejilatin punyanya partner kita pada saat berhubungan,” jelasku.

“Ooo..”

Langsung aku membuka celana dia dan CD-nya. Kami langsung mengambil posisi 69. Aku buka belahan kemaluannya dan terlihatlah klitorisnya seperti bentuk kacang di dalam kemaluannya itu. Ketika kusentuh pakai lidah, dia mengerang,

“Ahh.. Kakak nyentuh apanya sih kok enak banget..” tanyanya.

“Elo mestinya ngejilatin dan ngisep punya gue dong. Masa elo doang yang enak,” kataku.

“Iya Kak, habis takut dan geli sih..” jawabnya.

“Jangan bayangin yang bukan-bukan dong. Bayangin saja keenakan elo,” kataku lagi.

Saat itu juga dia langsung menjilat punyaku. Dia menjilati kepala anu-ku dengan perlahan. Uuhh, enak benar. Terus dia mulai menjilati seluruh dari batanganku. Lalu dia masukkan punyaku ke mulutnya dan mulai menghisapnya. Oohh.. gila benar. Dia ternyata berbakat. Hisapannya membuatku jadi hampir keluar.

“Stop.. eh, Din, stop dulu,” kataku.

“Lho kenapa?” tanyanya.

“Tahan dulu entar aku keluar,” jawabku.

“Lho emang kenapa kalau keluar?” tanyanya lagi.

“Entar game over,” kataku.

Ternyata adikku memang belum mengerti masalah seks. Benar-benar polos. Akhirnya kujelaskan kenapa kalau cowok sudah keluar tidak bisa terus pemainannya. Akhirnya dia mulai mengerti. Posisi kami sudah tidak 69 lagi, jadi aku saja yang bekerja. Kemudian aku teruskan menghisapi kemaluannya dan klitorisnya. Dia terus menerus mendesah dan mengerang.

“dedi.. terus ded.. di situ.. iya di situ.. oohh.. sshh..”

26263784_142503563088078_6517279204260708352_n.jpg

Aku terus menghisap dan menjilatinya. Dia menjambak rambutku. Sambil matanya merem-melek. Akhirnya aku sudah dalam kondisi fit lagi (tadi kan kondisinya sudah mau keluar). Kutanya sama adikku,

“Elo berani ML tidak?”

“..” dia diam.

“Gue pengen ML, tapi terserah elo.. gue tidak maksa,” kataku.

“Sebenerya gue takut. Tapi sudah kepalang tanggung nih.. gue lagi ‘on air’,” kata dia.

“OK.. jadi elo mau ya?” tanyaku lagi.

“..” dia diam lagi.

“Ya udah deh, kayanya elo mau,” kataku.

“Tapi tahan sedikit. Nanti agak sakit awalnya. Soalnya elo baru pertama kali,” kataku.

“..” dia diam saja sambil menatap kosong ke langit-langit.

Kubuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Kelihatan bibir kemaluannya yang masih sempit itu. Kuarahkan ke lubang kemaluannya. Begitu aku sentuhkan kepala “anu”-ku ke liang kemaluannya, Dina menarik nafas panjang, dan kelihatan sedikit mengeluarkan air mata. “Tahan ya Din..” Langsung kudorong anu-ku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Tapi masih susah, soalnya masih sempit sekali. Aku terus mencoba mendorong anu-ku, dan.. “Bleess..” masuk juga kepala kemaluanku. Dina agak berteriak,

“Akhh sakit Kak..”

“Tahan ya Din..” kataku.

Aku terus mendorong agar masuk semua. Akhirnya masuk semua kemaluanku ke dalam selangkangan adikku sendiri.

“Ahh.. Kak.. sakit Kak.. ahh..”

Setelah masuk, langsung kugoyang maju-mundur, keluar masuk liang kemaluannya.

“Ssshh.. sakitt Kak.. ahh.. enak.. Kak, teruss.. goyang Kak..”

Dia jadi mengerang tidak karuan. Setelah beberapa menit dengan posisi itu, kami ganti dengan posisi “dog style”. Dina kusuruh menungging dan aku masukkan ke lubang kemaluannya lewat belakang. Setelah masuk, terus kugenjot. Tapi dengan keadaan “dog style” itu ternyata Dina langsung mengalami orgasme. Terasa sekali otot-otot di dalam kemaluannya itu seperti menarik batang kemaluanku untuk lebih masuk.

“Ahh.. ahha.. aku lemess banget.. Kak,” rintihnya dan dia jatuh telungkup. Tapi aku belum orgasme. Jadi kuteruskan saja. Kubalikkan badannya untuk tidur terlentang. Terus kubuka lagi belahan pahanya. Kumasukkan kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Padahal dia sudah kecapaian.

“Kak, udah dong! Gue udah lemes..” pintanya.

“Sebentar lagi ya..” jawabku.

Tapi setelah beberapa menit kugenjot, eh, dianya segar lagi.

“Kak, yang agak cepet lagi dong..” katanya.

Kupercepat dorongan dan genjotanku.

“Ya.. kayak gitu dong.. sshh.. ahh.. uhuuh,” desahannya makin maut saja.

Sambil menggenjot, tanganku meraba-raba dan meremas payudaranya yang mungil itu. Tiba-tiba aku seakan mau meledak, ternyata aku mau orgasme. “Ahh, Din aku mau keluar.. ahh..” Ternyata saat yang bersamaan dia orgasme juga. Kemaluanku seperti dipijat-pijat di dalam. Karena masih enak, kukeluarkan di dalam kemaluannya. Nanti kusuruh minum pil KB saja supaya tidak hamil, pikirku dalam hati.

Setelah orgasme bareng itu kucium bibirnya sebentar. Setelah itu aku dan dia akhirnya ketiduran dan masih dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar gara-gara kecapaian. Ketika bangun, aku dengsr dia lagi merintih sambil menangis.

“Kak, gimana nih. Punyaku berdarah banyak,” tangisnya.

Kulihat ternyata di kasurnya ada bercak darah yang cukup banyak. Dan kemaluannya agak sedikit melebar. Aku kaget melihatnya. Gimana nih jadinya?

“Kak, aku udah tidak perawan lagi ya?” tanyanya.

“..” aku diam saja.

Habis mau jawab apa. Gila! aku sudah merenggut keperawanan adikku sendiri.

“Kak, punyaku tidak apa-apakan?” tanyanya lagi.

“Berdarah begini wajar untuk pertama kali,” kataku.

Tiba-tiba, gara-gara melihat dia tidak pakai CD dan memperlihatkan kemaluannya yang agak melebar itu ke aku, anu-ku “On” lagi!

CERITA DEWASA – MALAM PERTAMA DENGAN MERTUAKU LEGIT

CERITA DEWASA – MALAM PERTAMA DENGAN MERTUAKU LEGIT

CERITA DEWASA – MALAM PERTAMA DENGAN MERTUAKU LEGIT – Namaku dedi umurku sekarang ini 17 tahun. aku memiliki Pengalaman Yang luar biasa Nikmat dengan Mertuaku yang Hot. Umurnya belum terlalu tua hanya 35tahun. Mertuaku sangat cantik, Langsing,

Kalah itu aku baru saja menikah dengan Mega Anak Mertuaku yang cantik, Setelah selesai Izab Kabulnya sudah tau dong apa yang harus dilakukan, aku mengendong Mega kekamar untuk melakukan Sex denganya. Saat itu aku putuskan untuk kekamar mandi untuk membasu tubuhku agar lebih nikmat saat melakukan sex.

10menitan aku mandi selasai itu aku keluar dan berjalan kearah kamarku, aku bertemu dengan Mertuaku didapur dan melihat Bu Jinda Sedang mengobrak-abrik sesuatu dengan posisi nungging, aku menjadi tergiur dengan Bu Jinda dan memutuskan untuk mendekatinya aku emang orangnya sedikit nakal, Aku iseng untuk mengeelus memeknya dari balik celana dalam. Sontak membuat Bu Jinda Terkejut

“Aah! Kamu ngapain dedi? Bukannya kamu malam pertama dengan Istrimu??” kata bu jinda kepadaku
“Bu jujur yah dedi sange banget lihat ibu nungging tadi” Kataku sambil mendekatinya dan memeluknya
“Kamu gila yah! Aku sudah tua, Lagiankan kamu bisa ngentot dengan istrimu” kata Bu jinda menutupi memeknya dengan tangan dengan wajah ketakutan
“Please bu, Beri aku kesempatan untuk menikmati tubuhmu, Aku sudah dari dulu ingin sekali Ngentot denganmu” Kataku memberanikan diri meremas payudaranya yang berukuran 36B ternayta masih kencang

Keadaan menjadi hening seketika Bu Jinda Menatapku dengan dalam dan berbinar aku hanya bisa diam sambil menatapnya juga dengan kondosi tanganku terus meremas2 lembut payudaranya yang bulat dan besar itu. Seketika Bu Jinda mengengam penisku dan mengelusnya tapi wajahnya terus menghadap kewajahku lalu ia mengatakan

“dedi kamu yakin mau ML dengan Ibu?” katanya sambil meremas2 kontolku dengan sedikit kuat
“Iyah bu, aku sudah lama menginginkan Itu” Kataku meremas2 kedua payudaranya langsung, dan Bu Jinda hanya bisa mengigit bibirnya
“Yasudah, yuk ikut ibuk kekamar belakang. Jangan disini ntar ketahuan” Katanya sambil melumat bibirku dengan manja lalu berjalan kamar belakang yang bekas kamar Adik Mega

Ketika aku berjalan mengarah kebelakang tanganku mearahkan kepantat Bu Jinda lalu meremas2 pantatnya terus, sesekali kutampar pelan pantatnya yang bulat itu bergetar membuatku semakin tak bisa menahan nafsu ingin mencoba memek Mertuaku

“Ssshh, Jangan sayang ntar dilihat orang nggak enak”
“Abisnya Pantat ibuk bagus banget sih, dedi nggak tahan nih!”
“Dasar anak Nakal, Pinter banget milih yang Jago” katanya sambil tersenyum kepadaku

Kami langsung masuk kekamar dan mengunci kamarnya, aku langsung membuka baju pengantinku dan sarungku terlihat jelas kontolku sudah mengacung panjang keluar dari sarung, Mata bu jinda terbelalak melihat kontolku dan tetegun bengong. Lalu aku duduk diatas ranjang yang besar dan mengocok2 kontolku

Lalu Bu Jinda mengeleng kepala dan tersenyum. Aku perhatikan dia mencopot kaus T-shirt-nya ke atas. Lalu ia menarik tali BH-nya dan BH itupun terlepas… celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan CD-nya.

Jreng..! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu menantangku. Ditambah lagi Payudarayan ternyata Masih kencang membulat itu membuatku semakin tegang saja, lalu kutarik tangan Bu jinda duduk mengangkang diatas pahaku.

“Ihhh, Sabaran dong sakit tau!” pekik Bu jinda
“Ayoo bu, Aku udah nggak sabaran” rayuku
“Remes2 toket ibuk dong,” Katanya lagi

Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya 34B sambil jariku memelintir putting susunya. Bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Tanganku yang satu lagi memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku.

“Aahhkk…Kaammu Jaggo banget Mmmmhhh” desahnya
“Toket ibu bagus banget” kataku
“Mmhhh Terserah kamu mau apakan tubuhku” katanya

Batang kontolku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan. Ibu mertuaku mulai bereaksi. Tanganya meremas2 batangku. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah.

“Enakan bu?” bisikku
“Iyah Sayang, Ibu udah lama nggak dikasih jatah sama suami Uuuhhh” katanya sambil mendesah

Aku mengarahkan kontolku kelubang memeknya Bu Jinda masih kugesek2 dibibir kemaluannya, Bu jinda menringis2 nikmat terasa sekali lubang memeknya ingin dihantam masuk benda keras

“Aahk Eenak, Aakkhh” desahnya. Aku ingin permainan ini semakin lama akhirnya kuberdirikan tubuh Bu Jinda kuangkat 1 kakinya keatas lalu aku jongkok dibawah dan menghadap memeknya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada Klistorisnya.

“Ough.. sshhtt.. ough.. hmpf.. hh.. ooghh” Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku
“Enak kan, Bu..?” Kataku
“Hmh.. kamu.. sshtt.. kamu.. emang ennak.?” Tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya.
“enak koq.. gimana enak gak?”
“Hmh.. iyahh.. aduh.. sshhtt.. eenak.. banget…. sshhtt” jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah.

Kali ini aku kulum-kulum Klistorisnya dengan bibirku dan memainkan Klistoris dengan lidahku. Aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya.

“Ough.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh.. hmh.. ough.. shhtt.. ough.. hmh.. oufghh.. sshhtt” Desahan Ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan.

Aku sudahi Jilatanku aku bangun dan kuarahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang penisku dan meremas-remasnya.

“Mmmh Udah tua nakal juga yah” kataku
“Iyah nih, Nafsu ibu sama Darah Muda” katanya

Rasanya geli-geli nikmat bercamput sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama.

“Kontol kamu gede juga lama2” Kata Ibu mertuaku sambil terus mengurut batang penisku.
“Iya dong, Bu” Kataku.

“Jangan Buru2 yah sayang, Ngilu ntar” Kata mertuaku sambil memberikan aku lampu hijau untuk menerobok memeknya tetapi pelan2

Aku angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi sudah keras dan kencang.

“Ouh.. hgh.. ogh.. pelan-pelan, ded” Kata Ibu mertuaku ditengah-tengah deru nafasnya.

“Iyaah Buu, Memek inikan bakal jadi milik aku juga hihi” Kataku sambil perlahan-lahan mendorong penisku masuk ke liang vaginanya.
“Dasarr Nakall ntar Ibu Goyang baru tau rasa”Katanya
“Iyeh itu malahan yang desi tunggu bu” Kataku.

Aku teruskan mendorong kontolku masuk ke memeknya yang becek. Dengan sedikit usaha.. tiba-tiba..!SLEB-SLEB-BLESSS! Batang penisku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang Memek Ibu Jinda.

“Ough.. egh.. iya.. sshh.. pelan-pelan aja yah, sayang” Kata Ibu mertuaku.

Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul Ibu mertuaku berputar-putar.

“Ough.. gilaa, Bu.. masih sempit.. banget..!” Kataku sambil merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya.

“Ough.. sshtt.. egh.. sshh.. hmh.. ffhh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh” Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan. Baru sekitar 30 menit aku ingin berganti posisi.

“Gantian Buk dong yang goyang, Pengen rasain Kenikmatan maut” Kataku.
“Ntar kamu muncrat duluan kalau ibu yang goyang” katanya..
“Siapa yang tau kalau nggak dicoba” Kataku.
“Awas.. yah.. kalo keluar duluan” Goda Ibu mertuaku sambil meremas-remas buah pantatku.
“Iyahh sayangg”Kataku
“Udah berani manggil sayang? Hahaha” Ibu Jinda tertawa melihatku

Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping. Tak ada lemak. Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku.

Aku juga duduk dan meraih puting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum. Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring.Bu Jinda mulai memompa kontolku naik turun mengoyangkan ppinggulnya.

“Egh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. ough.. egh.. hmf” desah Ibu mertuaku.
“Enak banget..!”
“Ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya.

Tanganku meremas buah dadanya yang besar. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya.

“Ough.. sshtt.. emh.. enagh.. egh.. sshhtt.. ough.. iyaahh.. eeghh.. enak.. ough” liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan.

“Ough.. iiyyaahh.. egghh.. eghmmhhff.. sshhtt.. ough.. aku udah mau nyampe” Kata Ibu mertuaku.
“Bu.. aku juga pengen, Bu.. egh” Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku.
“Egh.. iyah… sayangg.. ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya orgasme.

Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga.

“Hmfh.. terusshh.. iyah.. ough.. oughh.. Aaahhhkkk.. Ooohh.. Oohh.. OUGH” Ibu mertuaku telah sampai pada orgasmenya.

Batang Kontolku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Ibu mertuaku menggelepar dan menggelinjang liar nafasnya yang tersengal.

Denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang penisku Dan.. CROT.. CROTT.. CROTTT..! muncrat semua air maniku diliang vagina Ibu mertuaku.

“Aku pengen memek kamu bu, Enaakk bangett!!” kataku terus menghisap lehernya
“Iyahh aaahkk Enakk banget, Pengentiap hari dikasih enak sama kamu” Kata Ibu mertuaku
“Iya.. sekarang kan udah, Bu” Kataku
“Oh.. kamu.. hebat banget ” Kata Ibu mertuaku
“Abisnya Ibu hot banget, aku sampe sange berat sama memek ibuk” Kataku memujinya
“Ih.. bisa aja.. kamu” sahut Ibu mertuaku sambil mencubit pinggulku.

Kemudian Aku teringat dengna istriku yang dikamar menungguku untuk kuperawanin, aku bergegas merapikan pakaiannku dan langsung kembali kekamar lagi. Kulihat Istriku sudah tertidur lalu kubuka baju dan celananya perlahan dan kujamah tubuhnya ketika tidur, lalu sewaktu ingin kumasukan Istriku membuka mata tapi sedikit sayu menikmati rangsangannya itu.

dalam satu malam aku berhasil menikmati Dua memek sekaliguss,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Ngewe dengan adiku

Pertama kali aku melakukan hubungan seks dengan kakakku nomor dua saat aku masih kelas dua SMU. Saat itu kakakku sedang cuti dan pulang ke Bandung, aku sangat senang sekali. Kami bertiga pergi ke Cipanas dan kami menyewa sebuah pondokan di sana. Malam harinya saat aku sedang tertidur lelap di kamarku, aku merasa ada sesuatu di kemaluanku. Mula-mula rasanya enak sekali seperti ada yang membelai dan menghisapnya, tetapi tiba-tiba rasanya sangat sakit seperti ada yang menekan dan berusaha masuk, dan kurasakan juga seperti ada yang sedang menindihku.

Saat aku membuka mataku, aku melihat kakakku sedang menindihku dan berusaha memasukkan batang kemaluannya, aku mencoba berontak tapi tenagaku kalah kuat.
“Mas Doni jangan, aduh sakit Mas.., sakit..!”
“Ah diem aja dan jangan coba teriak..!” kata kakakku.
Malam itu kegadisanku diambil oleh kakakku sendiri. Tidak ada rasa nikmat seperti yang kubaca di buku, melainkan rasanya sakit sekali. Aku hanya bisa pasrah dan menahan sakit di bagian liang kewanitaanku saat kakakku bergerak di atas tubuhku. Gerakannya kasar seperti ingin mencabik-cabik tubuhku. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu. Saat kulihat tubuh kakakku mengejang dan kurasakan ada sesuatu yang hangat menyemprot ke dalam liang senggamaku, semakin hancurlah perasaan hatiku.

Pagi harinya aku hanya terdiam di kamar, karena tubuhku rasanya lemas dan sakit. Saat kakakku mengajakku pergi, aku hanya memalingkan wajahku dan menangis. Sore harinya kakakku masuk ke kamarku, dia minta maaf atas kejadian semalam dan berusaha untuk memperbaikinya, tapi aku hanya diam saja. Malam harinya kakakku datang lagi ke kamarku. Aku sangat ketakutan, tapi dia hanya tersenyum dan mencoba mencium bibirku, aku kembali berontak. Aku memaki-maki kakakku, tapi dia tidak peduli dan kembali mencium bibirku sambil meremas payudaraku, lama-lama aku menjadi terangsang karenanya. Dan malam itu kembali aku dan kakakku melakukannya, tapi lain dari malam yang kemarin, malam ini aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kami melakukannya dua sampai kali.

Sebelum kakakku kembali bekerja di Batam, saat mengantar kakakku di Bandara, aku meminta hadiah perpisahan darinya.
Di kamar mandi Bandara kami melakukannya lagi, “Ah Mas Doni.., terus Mas.. akh..”
“Akh Ani, kamu cantik sekali, akh.. Ani, Mas Doni mau keluar, akh..!”
“Ani juga Mas.., akh.. Mas, Ani keluar Mas.., akhh..!”
Mas Doni memelukku erat-erat, begitu juga diriku. Setelah beberapa saat kami berciuman dan kembali lagi ke ruang tunggu dengan alasan habis dari kantin beli makanan. Aku hanya bisa menangis saat Mas Doni pergi, tapi aku juga sangat bahagia dengan hadiah yang diberikannya.

Sejak saat itu aku seperti ketagihan dengan seks, dan untuk melampiaskannya aku hanya dapat melakukan masturbasi di kamar mandi. Aku sudah punya pacar dan kami melakukannya sampai sekarang, tapi aku jarang merasakan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari kakakku. Dan saat adikku mulai beranjak dewasa, aku melihat sosok kakakku, tapi adikku lebih tampan dan gagah bila dibandingkan dengan kakakku. Aku sering merasa terangsang, tapi hanya bisa kutahan dan lagi-lagi hanya bisa kulampiaskan dengan jalan masturbasi. Entah berapa lama aku bisa menahan keinginan untuk melakukannya dengan adikku.

Sampai suatu hari, saat orang tuaku sedang tidak ada di rumah, adikku baru pulang sekolah dan aku menyiapkan makan siang untuknya. Karena hari itu terasa panas, aku hanya menggunakan celana pendek dan t-shirt tanpa memakai BH. Saat adikku kusuruh makan, Toni menolak karena sudah makan di luar bersama teman-temannya, dan akhirnya aku makan sendiri, sedangkan adikku asyik berenang. Selesai makan aku buatkan jus jeruk dan kuantarkan ke kolam renang. Sambil meminum jus jeruk, aku melihat adikku berenang. Saat Toni keluar dari kolam renang dan duduk di sebelahku sambil meminum jus jeruk dan berjemur, jantungku berdetak semakin cepat dan aku sangat tidak tahan untuk memeluknya.

Tidak kusangka adikku yang dulunya polos, sekarang sudah berubah menjadi seorang cowok yang gagah dan tampan terlebih lagi hobinya adalah berenang. photomemek.com Dadanya terlihat bidang dengan bentuk yang menggairahkan, tubuhnya atletis dan bisa kutebak kalau batangnya juga lumayan besar. Aku hanya dapat memandangnya, wajahnya ditutupi oleh handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan tubuhnya. Aku sudah tidak tahan lagi dan aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku membelai dada adikku dan Toni hanya menggelinjang kegelian.

“Mbak Ani.., apaan sih..? Geli tau..! Kurang kerjaan, mendingan bikinin aku roti bakar..”
Aku sedikit terkejut dan kucubit perutnya, Toni hanya tertawa.
“Emang aku pembantumu, enak aja.” kataku agak jengkel.
Aku sudah benar-benar tidak tahan, tanpa pikir panjang lagi kutindih tubuh adikku dan kulempar handuk dari wajahnya.
“Mbak Ani mau ngapain sih..?” tanyanya.
Tanpa sepatah kata pun langsung kucium mulutnya dan kuremas-remas dadanya yang bidang itu. Adikku sangat terkejut dengan apa yang kulakukan dan mendorong tubuhku. Aku tidak peduli, kucium lagi bibirnya dan kali ini adikku tidak bereaksi apa-apa dan mencoba untuk menikmatinya. Aku tahu kalau Toni mulai terangsang, karena kurasakan diantara kedua pahanya ada sesuatu yang bertambah besar.

Kuciumi terus bibir dan lehernya, adikku sedikit kewalahan tapi Toni selalu mencoba membalas ciumanku walau terasa agak kaku.
“Baru pertama dicium cewek ya..?” tanyaku.
“Ah Mbak banyak omong, terusin aja Mbak..!” katanya tidak sabar lagi.
Mendengar ucapannya aku jadi semakin bersemangat, langsung kubuka kaosku, dan adikku hanya bisa melotot melihat payudaraku yang cukup besar.
“Wah susu Mbak bagus sekali, baru kali ini Toni melihat susu cewek.” katanya.
Kusuruh Toni memegang dan meremasnya, “Aduh jangan keras-keras, sakit.. Coba sekarang kamu isep susu Mbak..”
Lalu kusodorkan payudaraku ke mulutnya, Toni mengulum dan menghisap puting payudaraku, “Akh enak sekali Ton, sshs.. akhh terus Ton.., enak sekali..”

Kusuruh Toni berhenti, lalu kuciumi lagi bibir dan lehernya, kemudian kuturun ke dadanya dan kuciumi serta kugigit pelan putingnya, Toni hanya bisa mendesah lirih, “Akh.. enak Mbak, akhh..”
Dengan tergesa aku turun kebawah, kulihat batang kejantanannya yang gagah sudah sedikit tercetak dan memperlihatkan kepalanya di celana renang adikku. Dengan penuh nafsu langsung kutarik celana renang adikku sampai ke lututnya.
“Wah.., Ton punya kamu Oke juga nih, lebih bagus dari punya Mas Doni..”
Adikku hanya tersenyum dan sepertinya tidak sabar dengan apa yang akan kulakukan. Aku pun lalu membuka celanaku dan sekarang aku telanjang. Toni bangun dari kursi dan duduk, lalu Toni meraba bibir kemaluanku, kemudian kusuruh Toni menjilati bibir kemaluanku. Toni kelihatannya kaget tapi langsung kutarik kepalanya ke arah kemaluanku, dan Toni mulai menjilati permukaan lubang senggamaku.
“Akh.., Ton enak sekali terus akh.. yaa disitu Ton, enak.., akhh.. terus Ton terus akkhh..” desahku.
Aku menggelinjang keenakan dibuatnya, rasanya enak sekali dan aku sangat suka jika ada yang menjilati kemaluanku. Aku sudah tidak tahan, kudorong tubuh adikku ke kursi lagi, kemudian kupegang batang kejantanannya dan kuarahkan ke liang senggamaku. Toni kelihatannya sedikit tegang saat kepala kejantanannya menyentuh permukaan bibir kemaluanku. Toni menahan nafas dan mengerang saat aku menekan tubuhku ke bawah, dan batang kejantanannya masuk seluruhnya ke liang kewanitaanku.
“Akh.. Mbak.. enak sekali.. hangat.. yeah.. ayo Mbak terusin..!”

Aku lalu bergerak, menggoyangkan pantatku ke atas dan ke bawah, dan kadang kuputar-putar, tangan adikku kusuruh meremas-remas payudaraku dan Toni sangat bernafsu sekali. Aku bergerak semakin lama semaki cepat, tanganku memegang paha adikku untuk tumpuan. Beberapa saat kemudian, nafas adikku mulau memburu dan gerakannya mulai tidak karuan, kadang memegang pantatku, kadang meremas payudaraku, dan aku tahu kalau Toni sudah hampir sampai dan berusaha menahannya.

“Akh.. Mbak.., aduh.. Toni mau keluar Mbak..!”
“Tahan Ton.., Mbak sebentar lagi akhh..!”
Semakin kupercepat gerakanku, aku mulai liar. Kuremas dadanya dan saat kurasa kenikmatan itu, aku menekan tubuh adikku, dan tubuhku menjadi tegang sambil kuremas paha adikku.
“Toni nggak tahan lagi Mbak.. akh.. Mbak, Toni keluar Mbak akhh..!”
Pantatnya terangkat ke atas seperti ingin menusuk kewanitaanku dan kurasakan semprotannya yang cukup keras beberapa kali di dalam rahimku. Begitu juga denganku, otot kemaluanku menekan batangnya dan kurasakan liangku semakin basah, baik oleh cairanku ditambah mani adikku yang menyemprot sangat banyak di lubang senggamaku.

Tubuh kami basah oleh keringat, dan kemudian kupeluk tubuh adikku menikmati sisa-sisa kenikmatan tadi. Nafas adikku mulai teratur dan kurasakan batang kemaluannya mulai mengecil di liang kewanitaanku, namun pantatku masih tetap bergoyang di atas tubuhnya.
“Mbak, enak sekali.., makasih ya Mbak, baru pertama kali ini Toni merasakan nikmatnya tubuh perempuan dan nikmatnya melakukan hubungan badan.”
“Mbak yang harusnya makasih sama kamu, ternyata adik Mbak cukup hebat walau baru pertama kali, tapi Mbak sangat puas sekali dan Mbak pengen sekali lagi, bolehkan Ton..?”
“Wah.., Toni juga mau Mbak..!”

Kucabut batang kejantanannya dari lubang kewanitaanku dan kembali kurasakan orgasme saat mencabutnya. Batang kemaluan adikku sudah mengecil sekarang, tapi tetap telihat gagah. Toni lalu duduk di pinggir kursi dan aku kemudian menjilati batang kejantanannya, Toni kembali mendesah, “Ssshh.., enak Mbak..!”
Tangannya membelai rambutku dan kadang meremas payudaraku. Aku kembali terangsang dan batang kemaluan Toni dengan cepatnya kembali tegak dan kokoh. Aku lalu lari dan menceburkan diriku di kolam renang, Toni menyusul setelah membuka celana renang yang masih tertinggal di lututnya. Di kolam kembali kami berciuman, tapi sekarang Toni kubiarkan lebih agresif. Sambil duduk di tangga kolam, diciuminya bibir dan leherku, kemudian dihisapnya puting payudaraku.

Kemudian kurasakan Toni berusaha memasukkan batang keperkasaannya, tapi selalu meleset. Aku hanya tertawa kecil, lalu kubantu dia. Kupegang batangnya dan kuarahkan ke kemaluanku. filmbokepjepang.com Toni hanya tertawa kecil dan kemudian dia menekan rudalnya ke sarangku. Toni lalu menggerakkan pantatnya dan memompa senjatannya keluar masuk liang surgaku, nafasnya juga mulai memburu. Aku menikmati tekanan yang diberikan Toni dan rasanya nikmat sekali.
“Akh.., enak sekali Ton, yang keras Ton..! Akh..!”
“Akhh Mbak.., kita pindah di kursi ya..? Di sini nggak enak.”
Toni lalu mengangkat tubuhku, kulingkarkan kakiku di pinggangnya sehingga aku masih bisa bergerak walaupun Toni berdiri dan berjalan ke arah kursi tempat kami tadi.

Di baringkannya tubuhku, lalu Toni mulai memompa batang kejantanannya lagi, semakin lama semaki cepat. Aku mengimbangi gerakakn Toni dengan mengerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan, kadang kuremas-remas pantat adikku yang kenyal. Nafas Toni mulai tidak teratur.
“Lebih cepat Ton.. akh..!”
“Mbak.., Toni mau keluar Mbak, akh..!”
Gerakan Toni semakin cepat, dan saat kulihat tubuh Toni mulai mengejang, kulingkarkan kakiku di pinggangnya. Toni menekan dan memasukan batang kemaluannya lebih dalam lagi.
“Akh.., Mbak, Toni keluar Mbak, akhh.., Mbak.. ngeakhh..”

Tubuhnya lalu rubuh di atas tubuhku. Tanpa mengeluarkan burungnya, kusuruh Toni berbalik dan aku mulai menggerakkan pantatku di atas tubuhnya. Batang kemaluan Toni memang mengecil, tapi lama-lama mulai mengembang lagi. Aku bergerak tidak karuan di atas tubuhnya, sampai beberapa saat kemudian aku orgasme, kupeluk erat-erat tubuh Toni. Setelah agak tenang, karena aku tahu kalau Toni belum keluar, kemudian aku turun dan mengulum batang keperkasaannya. Toni menggerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dan kadang menusuk ke dalam mulutku. Selang beberapa waktu kemudian, batang kemaluannya seperti mengembang di dalam mulutku.
“Akh.., Toni keluar Mbak.. akhh..!”
Maninya menyembur di dalam mulutku dan kutelan semuanya, kemudian kami berpelukan dan berciuman. Tanpa sadar kami tertidur di kursi, kepalaku kurebahkan di dadanya dan tubuhku di atas tubuhnya.

Sore hari kami dikejutkan oleh suara klakson mobil dan kami buru-buru bangun. Aku memakai bajuku yang berserakan di pingir kolam dan Toni buru-buru mengambil celana renangnya dan berlari ke kamarnya. Saat makan malam, kakiku mengeranyangi kakinya dan jari kakiku menekan batangnya yang mulai mengembang. Kedua orang tuaku sedikit keheranan dengan kelakuan kami, tapi mereka tidak pernah tahu dengan apa yang telah terjadi di antara kami. Malamnya seusai makan malam aku langsung masuk kamar, begitu juga Toni. Tengah malam aku terbangun karena Toni menciumi bibirku dan malam itu kami melakukannya lagi.

Sejak saat itu, secara sembunyi-sembunyi kami melakukannya, bahkan setelah aku menikah dengan pacarku, kami pun masih sering melakukannya, terutama saat suamiku sedang dinas keluar kota. Rahasia ini sampai sekarang masih kami pegang dan bahkan cinta gelap kami ini membuahkan putra pertamaku yang sekarang sudah berusia 9 tahun.

Saat pernikahan Toni aku memberikan sebuah hadiah. Setelah malam pengantinnya, kami melakukannya di gudang belakang rumah saat semua orang sudah terlelap. Toni bilang walaupun istrinya sekarang masih gadis, tapi tidak ada yang menyaingi aku. Makanya suamiku sangat betah di rumah karena servisku yang sangat memuaskan, tanpa tahu kalau aku selingkuh dengan adik kandungku sendiri.,,,,,,,,,,,,,,,,,

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai